Facebook Twitter
Welcome to idebangga.blogspot.com, enjoy blogging and leave comment :)
Rabu, 16 Januari 2013

43
Idealisme Sang Agen Perubahan

Ditulis oleh Bangga Hana Pramana | Label:

Tema: "Menyorot Mahasiswa Modern: Idealisme VS Pragmatisme"


Di jaman yang semakin modern ini, mendengar kata globalisasi sudah menjadi hal yang tidak asing lagi. Pertukaran informasi antar Negara sudah menjadi hal yang biasa dan wajar dilakukan. Hal ini dapat terjadi karena adanya perkembangan teknologi yang pesat.  Tentunya hal ini memiliki dampak yang luar biasa di semua bidang kehidupan, tidak terkecuali bidang pendidikan. Di era yang serba modern ini proses belajar di sekolahan bukan lagi sarana satu-satunya untuk belajar. Pelajaran yang dulunya hanya bisa kita peroleh dari sekolah, kini dapat kita akses dengan mudah melalui internet, bahkan saat ini keberadaan buku-buku pelajaran pun sudah mulai tergantikan dengan adanya buku elektronik atau e-book.

Hal ini memang membawa dampak positif yang besar yaitu menambah sumber referensi belajar untuk kalangan pelajar, namun juga sekaligus membawa dampak negatif yang cukup penting untuk diwaspadai yaitu memicu timbulnya rasa malas. Mungkin bagi pelajar sampai setingkat SLTA hal ini belum menjadi masalah yang besar karena sistem sekolah di Indonesia saat belum terlalu memberikan kebebasan pada siswa dan masih ada aturan yang mengikat siswa untuk terus belajar. Tetapi lain halnya dengan perguruan tinggi, sistem perkuliahan cenderung memberikan kebebasan kepada mahasiswanya dimana mereka sudah dianggap dewasa untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Inilah titik yang perlu diwaspadai, kehadiran teknologi-teknologi yang membuat  kehidupan semakin praktis serta adanya kebebasan yang diberikan, justru cenderung membuat mahasiswa semakin enggan untuk hadir di dunia perkuliahan.

Idealisme mahasiswa yang digadang-gadang akan menjadi agent of change juga mulai terkikis. Mulai dari sisi akademis, sebagian besar mahasiswa hanya hadir di perkuliahan untuk syarat presensi atau formalitas saja, tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh dosen dan selalu berasumsi bahwa dosen hanya salah satu sarana, masih banyak sarana lain untuk belajar seperti internet dan buku. Hanya sedikit mahasiswa yang masih bersemangat hadir dan selalu memperhatikan materi dengan menganggap selalu ada nilai lebih dari apa yang disampaikan dosen daripada membaca buku atau internet. Kemudian dari segi keaktifan mahasiswa dalam sebuah organisasi, kebanyakan organisasi mahasiswa saat ini mulai beralih fungsi sekedar untuk ketenaran dan  eksistensi saja, tidak sedikit yang sampai melakukan aksi-aksi demo diluar batas padahal hanya untuk kepentingan organisasi. Bahkan para aktivis mahasiswa pun mulai melupakan tanggung jawabnya menjadi seorang agen perubahan bangsa, mereka mengabaikan nilai-nilai kehidupan dengan mengganggap yang benar adalah benar dan yang salah menjadi benar asalkan keinginan mereka tercapai. Jika semua seperti itu, lalu dimanakah letak kebenaran yang sesungguhnya?

Memang masih ada segelintir mahasiswa yang memiliki idealisme kuat untuk memperjuangkan keadilan dimana yang benar dikatakan benar dan yang salah dikatakan salah, akan tetapi di jaman modern ini mereka justru hanya dianggap kolot dan keras kepala. Mahasiswa yang memiliki  idealisme yang benar dan bertanggung jawab justru dinilai berpura-pura idealis. Mereka dipaksa mengikuti pandangan mahasiswa yang keliru namun dianut mahasiswa pada umumnya, yaitu idealisme yang justru mengarah pada pragmatisme dimana yang terpenting bisa lulus cepat dengan nilai yang bagus dan sesegera mungkin mendapatkan pekerjaan yang mapan. Mahasiswa yang berpikir pragmatis seperti ini tidak akan lagi mementingkan proses kuliah dan penguasaan ilmu, mereka akan lebih memfokuskan diri untuk memperoleh gelar dengan cepat sebagai syarat melamar pekerjaan.

Idealisme mahasiswa yang tergadaikan oleh pragmatisme yang tidak benar seperti inilah yang pada akhirnya memunculkan banyak kasus sarjana pengangguran. Pada kenyataan yang ada gelar bukanlah jaminan  untuk memperoleh pekerjaan. Bahkan lulusan dari universitas ternama pun banyak yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan karena nilai bagus dalam ijazah tidak sebanding dengan kemampuan yang dimiliki. Selain itu, keterbatasan lapangan pekerjaan yang tersedia dan kurangnya informasi mengenai peluang kerja juga merupakan faktor yang mempersulit mereka untuk menemukan pekerjaan yang sesuai. Hanya sarjana yang benar-benar mampu bersainglah yang dapat mengisi lowongan pekerjaan yang ada, sementara sisanya hanya akan menjadi pengangguran. Dan pada akhirnya sarjana-sarjana muda yang seharusnya menjadi potensi luar biasa untuk perubahan bangsa tersebut terpaksa harus rela turun ke jalan menjajakan ijazah yang mereka miliki demi sebuah pekerjaan meskipun pekerjaan itu sebenarnya kurang layak untuk orang-orang intelek setingkat mereka.  Lalu bagaimana dengan peran mereka sebagai agen perubahan jika untuk sebuah pekerjaan saja mereka harus ‘mengemis’?


Di saat seperti inilah peranan institusi seperti Engineering Career Center UGM (ECC UGM) terasa sangat dibutuhkan. ECC UGM merupakan pusat informasi dan pengembangan karir berbasis IT yang berada langsung di bawah Fakultas Teknik UGM. Institut ini berperan penting dalam  memberikan informasi seputar dunia karir, personal development dan recruitment service. Dan tentunya hal ini akan sangat membantu mahasiswa untuk menemukan karir yang sesuai dengan harapan mereka. Para jobseeker tidak akan kekurangan informasi mengenai peluang kerja karena banyak sekali program yang dicanangkan oleh ECC UGM seperti job fair akbar career days UGM,  CEO Talk, Softskill Training dan masih banyak lagi lainnya. Selain itu EEC UGM juga menyediakan berbagai fitur dan layanan online yang sangat bermanfaat untuk menemukan karir impian. Informasi mengenai lowongan pekerjaan dari berbagai industri akan selalu diupdate setiap hari sehingga diharapkan dapat meminimalisir terjadinya pengangguran karena kurangnya informasi peluang kerja.

Namun adanya sumber informasi seperti ECC UGM belum sepenuhnya menyelesaikan problematika yang ada. Tetapi diperlukan kesadaran diri yang kuat dari kalangan mahasiswa itu sendiri untuk menjunjung tinggi idealisme yang bertanggung jawab. Tidak hanya mengarah kepada pragmatisme bahwa yang penting nilai bagus dan cepat lulus dengan praktis dan mudah, melainkan segala sesuatu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sesuai prosedur. Tidak hanya mementingkan hasil namun juga memperhatikan prosesnya dan mendalami ilmunya semaksimal mungkin. Selain itu mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual saja namun juga harus memiliki moral agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Dengan begitu mahasiswa akan mampu memberikan kontribusi maksimal baik untuk lingkup kampus, masyarakat dan juga bangsa ini.

Jika menurut Anda Artikel ini bermanfaat, bagikan ke:

Baca juga:

43 komentar:

  1. Sangat berguna dan bermanfaat, dengan membaca ini bisa jadi akan meningkatkan kesadaran mahsiswa bahwa kulaih seharusnya tidak hanya sekedar mencari nilai dan gelar tapi juga hrs mendalami ilmu yg ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin,, semoga saja..
      karena saya rasa saat ini belum banyak mahasiswa yang menyadari seberapa besar tanggung jawabnya..
      terima kasih :)

      Hapus
  2. it's so amazing gan.
    i hope, this contain can makes some student understand, care and adaptation to situation now. and interpersonal skill is very important which must owned by our self.
    Make a job, and be enterpreneur, :D
    thanks gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. I hope so,, we need to improve our interpersonal skill to make a great inovation.
      I do agree with you, be an enterpreneur may be one of the best solution to solve the problem about job vacancy..
      Thanks :)

      Hapus
  3. ikut meramaikan postingan anda....
    kunjungan balik sob :)

    BalasHapus
  4. Sangat masuk akal..
    Mahasiswa => dewasa => tau mana yang benar, mana yang salah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali kawan,
      jangan sampai menganggap hal yang salah menjadi benar hanya untuk kepentingan kita semata :)

      Hapus
  5. Semoga dengan ini mahasiswa jadi lebih berfikir dalam bertindak

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin,
      semoga juga bisa lebih bertanggung jawab terhadap tindakannya :)

      Hapus
  6. Visit here my friend I like U'r post.

    BalasHapus
  7. Semoga saja mahasiswa sekarang bisa menjadi yang terbaik dan tentunya kalau sudah lulus bisa BEKERJA dengan JUJUR..hahahyyy

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin,
      tentu saja itu harapan kita semua kawan,,
      selain intelek kita juga harus punya moral :)

      Hapus
  8. Mahasiswa sebagai agen perubahan diberikan kebebasan yang luas untuk mengembangkan diri mereka namun sebagai manusia dewasa mahasiswa juga harus sadar bahwa mereka memiliki tanggungjawab dalam setiap tindakan. Artikel yang bagus untuk pendorong apresiasi sekaligus pengontrol tindakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali sobat,, mahasiswa memang diberikan kebebasan namun bebas yang bertanggung jawab, bukan bebas yang sebebas-bebasnya..

      Hapus
  9. ijin membaca artikel yg menarik dan bermanfaat sobat salam kenal

    BalasHapus
  10. blogwalking gan selamat pagi

    BalasHapus
  11. jadikan kuliah sebagai kebutuhan bukan kewajiban..
    Bawalah idealisme sampai dunia kerja, jangan hanya berkoar2 tentang idealismen saat jadi mahasiswa namun melupakannya saat sudah bekerja.
    Artikel yang bagus kawan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang benar mahasiswa yang idealis belum tentu membawa idealismenya ke dunia kerja,, biasanya karena sudah merasa enak dgn jabatan yg tinggi ataupun karena iming2 kekayaan yg melimpah mereka jadi melupakan idealisme yang dulunya mereka bangun..
      terima kasih kawan,, :)

      Hapus
  12. bener sekali,,
    nilai yang sebenarnya dpt dilihat dari proses bukan hanya hasil akhir :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali kawan,, tapi masih sedikit yang menyadari perlunya menghargai proses.. :)

      Hapus
  13. mohon untuk komentator yang lainnya jangan menggunakan identitas atas nama anonim,, cantumkan identitas asli saudara agar penulis bisa mengenali siapa saja yang berkomentar..
    Terima kasih :)

    BalasHapus
  14. saya masih belum bisa beradaptasi di dunia perkuliahan ini, semuanya serba mandiri , berbeda dengan masa2 sekolah :D
    nilai memang bukan segalanya, prosesnya yang penting, itu sebenarnya masih sulit untuk diterapkan sekarang ini. dunia kerja masih memandang IP tinggi sebagai acuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang dunia perkuliahan sangat berbeda dengan dunia sekolah, dimana kita dituntut untuk mandiri, jadi biasakanlah :)
      tapi juga tidak sepenuhnya benar demikian, IP tinggi memang penting, tapi itu hanya sebagai syarat awal melamar kerja, proses selanjutnya ditentukan oleh kemampuan yg kita miliki :)

      Hapus
  15. "belajarlah bukan untuk sekolah ( nilai ) , tetapi belajarlah untuk hidup." # pengembangan diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali kawan,, sekolah memang bagian dari hidup,, tapi kehidupan yg sebenarnya baru dimulai selepas sekolah :)
      jadi carilah ilmu sebanyak2nya untuk menjalani hidup yg baik :)

      Hapus
  16. yap,memang proses dalam "mendalami" ilmu kita saat ini sangatlah penting namun jangan lupa hasil akhir tetap yang menentukan broo :) tapi yakinlah ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin InsyaAllah hasil akhir "mengikuti" kok, hahahaha :D
    man jadda wa jada !

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali kawan,,
      tugas kita hanya tinggal sungguh-sungguh belajar dan memaksimalkan potensi diri yang ada..
      hasil insya Allah berbanding lurus dengan usaha kita :)

      Hapus
  17. Balasan
    1. terima kasih sobat..
      semoga bermanfaat :)

      Hapus
  18. kunjungi di sini ya http://zhaed.blogspot.com

    BalasHapus
  19. blognya bermanfaat banget kang buat blogger pemula seperti saya, nuhun

    BalasHapus
    Balasan
    1. senang mendengarnya,,
      terimakasih supportnya :)

      Hapus