Facebook Twitter
Welcome to idebangga.blogspot.com, enjoy blogging and leave comment :)
Jumat, 23 November 2012

0
Budaya Global: Budaya Tato Masyarakat Suku Mentawai

Ditulis oleh Bangga Hana Pramana | Label:



Tato sebenarnya bukanlah hal baru bagi bangsa Indonesia. Tato merupakan budaya global yang memperkaya khasanah budaya Indonesia.

Sejak dulu, nenek moyang kita telah mengenal tato. Suku Mentawai, Dayak Iban, Dayak Kayan, Bali dikenal dengan tato tradisionalnya yang eksotik. Bagi masyarakat tradisional, tato bukanlah sekadar mencari sensasi dan kesenangan belaka, melainkan sangat sarat dengan berbagai makna.

 

Arat Sabulungan

Berbicara mengenai budaya Mentawai, tidak bisa terlepas dari Arat Sabulungan. Arat Sabulungan merupakan sistem yang mengatur masyarakat Mentawai yang mencakup pengetahuan, nilai, dan aturan hidup yang dipegang kuat dan diwariskan turun-temurun.

Contohnya, tidak boleh menebang pohon sembarangan tanpa izin panguasa hutan (taikaleleu), perintah untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, melakukan persembahan kapada roh nenek moyang, dan sebagainya.

Arat Sabulungan berasal dari kata sa (se) atau 'sekumpulan', dan bulung yang artinya 'daun'. Jadi, Arat Sabalungan adalah sekumpulan daun yang dirangkai dalam lingkaran terbuat dari pucuk enau atau rumbia yang diyakini memiliki tenaga gaib (kere).

Arat Sabalungan dipakai sebagai media pemujaan Tai Kabagat Koat (Dewa Laut), Tai Ka-leleu (roh hutan dan gunung), dan Tai Ka Manua (roh awang-awang).

Disamping itu,  Arat Sabulungan selalu digunakan pada saat upacara kelahiran, perkawinan, pengobatan, pindah rumah, dan penatoan.

 

Fungsi Tato

Dalam adat suku Mentawai, tato memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai berikut.

Jati Diri, Status Sosial atau Profesi

Seorang pemburu memilki tato bergambar hewan buruannya, seperti babi, rusa, kera, burung, atau buaya. Berbeda dengan tato yang dimiliki oleh seorang dukun, yang bergambar bintang sibalu-balu. Berbeda pula dengan seorang yang ahli bertarung dan sebagainya.

Simbol Keseimbangan Alam

Suku Mentawai sangat menghormati alam karena mereka hidup berdampingan dengan alam. Oleh karena itu, mereka sangat memperhatikan keseimbangan alam. Hal itu diekspresikan dengan tato yang bergambar pohon, matahari, hewan, batu, dan sebagainya.

           Keindahan

Suku Mentawai juga terkenal dengan masyarakatnya yang memiliki citra seni tinggi. Hal ini dapat dilihat dari aneka kerajinannya yang sudah dikenal ke mancanegara.

Tidak heran bila mereka menjadika tato sebagai media untuk mengekspresikan keindahan. Berbagai macam gambar menghiasi tubuh mereka sesuai dengan kreativitas, seperti berbagai alat perang, daun beraneka motif, dan lain-lain.

           Prosesi Penatoan

Anak laki-laki yang sudah menginjak usia 11-12 tahun (sudah akil balig) oleh orang tuanya akan dipanggilkan dukun (sikerei) dan kepala suku (rimata). Mereka merundingkan waktu pelaksanaan penatoan.

Bila sudah disepakati hari dan bulannya, akan dipanggilkan Sipatiti (pembuat tato). Jasa pembuatan tato akan dibayar dengan seekor babi.

Prosesi penatoan dimulai dengan punen enegat atau upacara inisiasi yang dipimpin dukun sikerei. Bertempat di puturukat (tempat khusus penatoan milik sipatiti).

Penatoan dimulai dari telapak tangan, tangan, kaki, lalu ke seluruh tubuh. Pertama-tama, badan si anak dibuatkan gambar sketsa dengan menggunakan lidi. Setelah itu, dimasukkan zat pewarna ke dalam lapisan kulit dengan cara menusukkan jarum sambil dipukul perlahan.

Jarum yang digunakan terbuat dari tulang hewan atau kayu karai yang diruncingkan. Adapun pewarna yang digunakan adalah campuran arang tempurung kelapa dan daun pisang.

Setelah pewarna tadi masuk ke lapisan kulit, selesailah penatoan. Bahan pewarna tadi akan terserap permanen di kulit si bocah.

Bila sudah selesai, orang tua si bocah yang ditato akan mengadakan pesta dengan menyembelih babi dan ayam. Daging babi dan ayam ini juga sebagai upah yang diberikan untuk sikerei.

 

Jika menurut Anda Artikel ini bermanfaat, bagikan ke:

Baca juga:

0 komentar: — Skip to Comment.

Posting Komentar — or Back to Content