Facebook Twitter
Welcome to idebangga.blogspot.com, enjoy blogging and leave comment :)
Minggu, 02 Desember 2012

0
Uniknya Kebudayaan Tana Toraja

Ditulis oleh Bangga Hana Pramana | Label:



Indonesia adalah negara dengan berbagai suku bangsa yang mendiaminya dari bagian barat hingga timur. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki keunikannya tersendiri. Keunikan itu membuat Indonesia menjadi negara wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

Kekayaan suku bangsa yang ada merupakan harta paling berharga untuk kita jaga dan lestarikan. Kebudaayaan yang tercipta dari hasil karsa manusia patut kita pelihara untuk menjaga kelangsungan hidup suku bangsa di Indonesia.

Di Indonesia bagian barat, kita mengenal suku Melayu, suku Kubu, Batak, Mentawai yang memiliki kekhasan budaya. Menyeberangi bagian barat, kita menemukan suku Badui, Jawa, Dayak, dengan keanekaragaman kearifan lokal.

Di bagian Indonesia timur, kita memiliki suku Bima, Bugis, Papua, Tana Toraja yang masih memiliki keaslian budayanya. Bangsa yang bijak adalah bangsa yang menghargai hasil cipta, karya, dan karsa suku bangsa yang mendiaminya.

Dari sekian banyak suku bangsa yang ada di Indonesia, ada suku bangsa yang memiliki kebudayaan unik. Bagi Anda yang memiliki jiwa petualang atau suka mengunjungi tempat-tempat wisata, Tana Toraja bisa dijadikan alternatif untuk agenda jalan-jalan bersama keluarga.


Tana Toraja merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Kabupaten Tana Toraja beribu kota Makale. Suku bangsa yang mendiami Tana Toraja adalah suku Toraja.

Populasi suku Toraja yang mendiami kabupaten Tana Toraja sebanyak 450.000 jiwa. Masyarakat suku Toraja mayoritas beragama Kristen. Namun, masih ada sebagian yang memeluk agama Islam dan sebagian lagi masih menganut kepercayaan animisme, Aluk To Dolo.

Kata Toraja itu sendiri berasal dari bahasa Bugis to riaja, yang artinya 'orang yang berdiam di negeri atas'.

Keunikan kebudayaan Tana Toraja terletak pada ritual pemakaman, rumah tradisional, ukiran kayu dan tari-tariannya. Dari sekian banyak kebudayaan yang ada, ritual pemakaman merupakan peristiwa sosial yang penting dalam strata kehidupan masyarakat Toraja.

Hubungan keluarga masyarakat di sini bertalian dekat dengan kelas sosial. Tingkatan kelas sosial masih kentara di Toraja. Kelas sosial diturunkan melalui ibu.

Adapun tingkatan kelas sosial yang ada yaitu bangsawan, orang biasa, dan budak. Budak sudah dihapuskan sejak zaman penjajahan Belanda meskipun saat ini masih ada sebagian masyarakat yang menjadi budak.

Kelas bangsawan mendapat tempat yang sangat dihormati di Tana Toraja. Bangsawan sangat menjaga martabat kebangsawanannya. Hal ini dapat dilihat masih adanya sikap merendahkan terhadap orang biasa karena alasan martabat keluarga.

Kaum bangsawan wajib mengadakan ritual pemakaman dan jenazah bangsawan di letakkan di tempat pemakaman khusus.

Suku Toraja memiliki rumah tradisional yang khas. Rumah tradisional khas Toraja yaitu rumah Tongkonan, berasal dari bahasa Toraja, tongkon, yang berarti 'duduk'.

Rumah ini merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, dan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja.

Ada tiga jenis rumah Tongkonan. Pertama, Tongkonan Layuk merupakan tempat kekuasaan tertinggi yang digunakan sebagai pusat pemerintahan. Kedua, Tongkonan Pekamberan merupakan milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal. Terakhir, Tongkonan Batu khusus anggota keluarga biasa.

Ciri khas lain dari suku Toraja adalah adanya seni ukiran. Suku Toraja menggunakan ukiran untuk menunjukkan konsep keagamaan dan sosial.

Ukiran dari kayu ini juga merupakan wadah berkomunikasi orang Toraja karena bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan. Oleh karena itu, ukiran kayu yang disebut Pa’ssura (tulisan) merupakan perwujudan budaya Toraja.

Ada sekitar 67 jenis ukiran yang ada dengan aneka corak dan warna. Setiap ukiran memiliki nama khusus dan motif yang berbeda. Contohnya, ukiran motif hewan dan tanaman melambangkan kebajikan, motif tanaman seperti gulma air serta hewan seperti kepiting dan kecebong melambangkan kesuburan.

Selain seni ukir, dikenal seni pahat. Seni ini dapat dilihat dalam rumah Tongkonan. Salah satu hasil seni pahat adalah Kabongo’, yaitu kepala kerbau yang dipahat dari kayu cendana atau kayu nangka dan dilengkapi tanduk kerbau asli.

Lokasi wisata yang sering dikunjungi di Tana Toraja adalah Rantepao. Rantepao terletak sekitar 328 km dari Makassar dan Makale.

Kota Rantepao ini terletak di dataran yang lebih tinggi dengan pemandangan yang sangat indah. Tidak jauh dari kota Rantepao, terdapat dua lokasi pemakaman suku Toraja yang terkenal, yaitu Ke’te Kesu dan Londa.

Ke’te Kesu dan Londa adalah tempat pekuburan alam purba berdinding batu, berupa gua.

Gua-gua di Ke’te Kasu dan Londa kedalamannya bisa mencapai 1000 m. Pekuburan alam purba ini dilengkapi benteng pertahanan yang bernama Tarangenge, yang terletak di atas punggung gua.

Gua tersebut penuh dengan tulang dan tengkorak para leluhur dan tau-tau. Tau-tau ini merupakan pertanda bahwa telah sekian banyak putra-putra Toraja terbaik yang dimakamkan melalui upacara adat tertinggi di wilayah Tana Toraja.


Jika menurut Anda Artikel ini bermanfaat, bagikan ke:

Baca juga:

0 komentar: — Skip to Comment.

Posting Komentar — or Back to Content